PRESS RELEASE- NDay2016

Posted in and I see on May 10, 2016 by Aurora Borealis

Siaran Pers Imidiate Release, Lampung 6-7 Mei 2016

Ratusan Motoris Indonesia Hadiri Nusantaride Day 2016

Ratusan motoris dari segala penjuru Nusantara menghadiri event Nusantaride Day (NDay) 6-7 Mei 2016, di Pantai Sapenan, Kalianda, Lampung.

NDay merupakan media berkumpul para motoris Nusantara yang difasilitasi Forum Nusantaride. Perhelatan tahunan Nusantaride ini merupakan ajang bertatap muka dan berbagi pengalaman berkendara para pencinta keindahan alam nusantara khususnya pengguna kendaraan roda dua.

Pantauan di lokasi, NDay 2016 dengan mengusung tema “Kembali ke Alam”  dihadiri 455 motoris yang mengendarai aneka jenis kendaraan roda dua.  Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dalam acara tersebut.
“Kami memprediksi NDay diikuti sekitar 200 motoris. Tapi ternyata jumlah peserta meningkat dua kali lipat dari perkiraan. Mereka sangat antusias,” ujar ketua pelaksana, Rio Maruli Tua.

Para subscriber Nusantaride menunjukkan antusiasme mengikuti ajang ini. Terbukti gelombang peserta telah memadati lokasi terhitung sejak H-1. Bahkan hari terakhir masih terlihat beberapa peserta baru tiba dan segera mendaftarkan diri di lokasi. Selain motoris dalam negeri, ajang ini juga dihadiri satu motoris asal mancanegara yaitu El Gaban Norazhar. Motoris asal negeri Singapura ini telah beberapa kali mengikuti acara serupa.

Event yang berlangsung selama dua hari ini diramaikan ratusan motoris yang mengendarai berbagai macam jenis dan merk sepeda motor. Sesi yang paling ditunggu adalah ride and share, merupakan ajang berbagi sesama pengguna roda dua. Panitia mendatangkan tujuh narasumber.

Hadir sebagai pembicara antara lain Tito Wicaksono dengan Andalas Motoride-nya, Sugeng Hariyono dengan Motor Pustaka dari Lampung Timur. Pembicara lain tak kalah menarik adalah Mouzza Zee dan Sheibasari Rie. Mereka merupakan duo srikandi Indonesia yang memiliki hobi berkeliling Indonesia dan mengenalkan kekayaan bangsa kepada khalayak.

Tak lepas kontribusi dari narasumber Rendra Hertiadhi dengan Ori Wadjo yang memberikan tips dalam manajemen packing dalam berkendara, “Inti setiap perjalanan adalah pulang dengan selamat dan penuh bahagia” ujar mereka.

Sesi lain tak kalah menarik adalah coaching clinic teknik aman berkendara motor yang diberikan Mohammad ‘Amink’ Ismail dan tim. Melalui pelatihan ini para peserta mendapat bekal cara aman berkendara baik di medan on-road dan off-road.

011

Berfoto Bersama – Ratusan Motoris Indonesia mengabadikan moment kebersamaan usai acara Nusantaride Day 2016

#DokNDay2016

Advertisements

Mendaki Singgasana Sang Dewa

Posted in and I see on February 5, 2015 by Aurora Borealis

Tulisan dan foto-foto ini, hasil karya dari Arga Andriyan. Seorang pendaki yang foto-fotonya terlalu sayang jika hanya di share account pribadi. Saya Memaksanya untuk menulis lagi cerita singkat perjalanan dia sewaktu mendaki Gunung Prau. Namun, syaratnya saya yang harus memposting tulisannya.  

Barangkali sudah banyak wisatawan lokal maupun asing yang mengunjungi kawasan dataran tinggi Dieng. Kawasan dataran tinggi ini berada dalam provinsi Jawa Tengah dan termasuk dalam wilayah kabupaten Banjarnegara juga Kabupaten Wonosobo. Letaknya persis berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.Barangkali juga sudah banyak yang mengetahui bahwa Dieng merupakan kawasan Vulkanik aktif yang mempunyai beberapa kepundan kawah. Namun, sudah banyak yang tahu kah, kalau nama Dieng berasal dari berasal dari gabungan dua kata bahasa kawi “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna Dewa. Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.

IMG-20150127-WA0010Telaga Cebongan

Dieng sudah menjadi kawasan wisata dengan beberapa destinasi yang sering dikunjungi wisatawan. Telaga Warna, CandiArjuna, Mata Air TukBimalukar, Kawah Sikidang dan Sikunir yang merupakan desa tertinggi di pulau Jawa. Namun, beberapa tahun belakangan ini, ada salah satu destinasi wisata dieng yang menjadi perhatian bagi pendaki. Gunung Prau.

DSC_0009_fhdrSalah Satu Sudut Keindahan Gunung Prau

Gunung Prau atau Prahu sebuah nama yang cukup singkat bagi sebuah gunung. Kadangkala hanya dilirik sebelah mata oleh pendaki Indonesia. Gunung yang terkenal dengan sebutan gunung Seribu Bukit ini hanya memiliki ketinggian 2.565 mdpl. Gunung yang tergolong pendek ini mungkin belum terkenal seperti gunung disekitarnya, ada Sindoro, Sumbing, Slamet, dan Unggaran. Namun buat saya semua gunung, sama indahnya. Mereka mempunyai ciri khas ketika kita sudah mencapai puncaknya.Nah, pada hari peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke 69 lalu. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk mendaki puncak gunung ini. Tidak sampai mengibarkan bendera merah putih, hanya ingin menikmati keindahan negeri ini dari atas puncak gunung Prau.

DSC_0106a_fhdrPesona Gunung Prau

Secara administrative gunung Prau berada di Dataran Tinggi Dieng yang meliputi wilayah Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo, Batang dan Kendal. Di Camp. areannya pun terdapat patok batas wilayah. Gunung ini dapat di tempuh melalui beberapa Jalur Alternatif Pendakian. Lewat Jalur utara, bisa melalui Kabupaten Kendal, Semisal dari Desa Kenjuran yang berada di Kecamatan Sukorejo. Jarak tempuh perjalanan kurang lebih enam Jam. Alternatif lain jalur pendakian bisa dilakukan melalui Jalur selatan, yaitu lewat Dataran Tinggi Dieng atau Desa Patak Banteng. Jalur ini relative lebih singkat, hanya sekitar 2-3 Jam perjalanan yang jalurnya lumayan terjal. Dan kali ini pendakian kami akan melewati jalur Desa patak Banteng.

IMG-20150127-WA0011Desa Patak Benteng

Tepat pada 17 Agustus 2014 kami memulai perjalanan. Kebetulan saya tinggal di Semarang jadi jarak tempuh hanya memakan waktu tiga jam perjalanan. Dengan mengendarai sepeda motor, kami memutuskan melewati jalur belakang yaitu,sumowono, kaloran, ngadirejo, jumprit, tambi. Jalur ini lebih menghemat waktu dibandingkan harus memutar lewat Kota Wonosobo yang mungkin lebih banyak memakan waktu sampai lima jam perjalanan

Kami bersepuluh orang berangkat dari semarang pagi hari. Selain jarak tempuk yang singkat jalur belakang ini juga menyajikan pemandangan yang tak kalah bagusnya. Melewati hutan, sawah, bukit, perkebunansayur, sungguh sangat menyegrakan mata yang kurang tidur. Kontur Jalannya pun lumayan bagus, namun sesekali tetap harus waspada karena jalur ini memang naik turun dan berkelok.Kurang lebih pukul satu siang kami sampai di desaPatak Banteng. Setelah memarkir motor, kami melanjutkan registrasi dan pendaftaran ke pospendakian. Biaya masuk pendakian di kenakan biaya emapt ribu rupiah per orang. Murah bukan?

DSC_0179Jalur Pendakian yang Mangasyikan

DSC_0015_fhdrJangan Lupa Tengok Kebelakang Saat Mendaki

Setelah administrasi semua selesai, kemudian kami memulai perjalanan pendakian. Awal jalur pendakian melewati jalan perkampungan penduduk, kami pun disambut keramahan penduduk desa patak banteng. Melewati perkebunan kentang dengan jalan tanah dan semakin menanjak. Setelah satu jam perjalanan kami sampai di pos II. Kondisi pos ini tidak terdapat selter atau pondokan, hanya sebuah tempat yang lumayan luas untuk beristirahat. Setelah dirasa cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari Pos II sampailah di Pos III. Kondisi Pos ini pun sama persis dengan Pos II tidak terdapat bangunan sama sekali. Perjalanan semakin terjal ketika kami telah melewati Pos III. Namun kami tetap semangat walapun nafas sudah terengal-engal. Camp Area sudah semakin dekat, namun lagi-lagi jalurnya sungguh menguras tenaga kami. Karena letak gunung ini masih berada dikawasan Dieng Pletau, sesekali ketika langkah kaki semakin berat, tengoklah kebelakang, maka mata kita akan di suguhi pemandangan perkampungan dieng dan telaga warna. Sungguh mempesona.

DSC_01411_fhdrPesona Dataran Tinggi Dieng dari Puncak Prau

Senja sudah tiba, ketika kami sampai di area perkemahan. Kami pun mulai mencari tempat untuk mendirikan tenda, mengingat momentym 17 Agustus jatuh pada akhir minggu, maka banyak orang yang mendaki ke GunungPrau. Setelah cocok tempat untuk mendirikan tenda kami istirahat sebentar dan memasak makanan yang kami bawa.

DSC_01565512_fhdrTempat Beristirahat yang Indah

Pemandangan dari puncak gunung prau terbilang sangat istimewa, rasa lelah saat perjalanan terbayar lunas dengan keindahan gunung prau. Puluhan bukit-bukit kecil tersebar dipuncak gunung prau, orang orang menyebutnya bukit “Teletubbies” memang bentuknya hampir mirip dengan yang ada di serial anak-anak. Disana juga terdapat sabana kecil dan hamparan bunga Daisy yang berwarna warni. Beberapa tempat juga ditumbuhi Edelweiss atau bunga abadi, jika cuaca cerah dari puncak gunung prau kita bisa melihat delapan Gunung di JawaTengah, Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi, Ungaran, Andong, Telomoyo, dan Selamet. Dipuncak gunung prau kita juga bisa melihat indahnya telagawarna, komplek kepundankawah yang mengepul mengeluarkan asap putih, dan kawasan dieng itu sendiri.

DSC_0170Hamparan Kebun Bunga di Puncak Prau

Menjelang senja kami bersiap untuk melihat sunset, jika dieng dikenal dengan golden sunrise, makaGunung Prau saat senja turun tidak kalah indahnya. Indahnya suasana langit saat terbenamnya matahari dari puncak Gunung Prau menjadi daya tarik sendiri bagi setiap pendaki. Proses terbenamnya matahari di samping gunung Selamet dan indahnya telagawarna di tambah beberapa awan yang menggumpal menjadi sebuah paduan frame yang cantik.Dengan terbenamnya matahari bukan berarti selesai juga keindahan di gunung Prau, justru keindahan itu baru dimulai. Menjelang malam, terlihat kerlap kerlip lampu kota Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, menambah eksotisme gunung prau malam hari.

DSC_0033Eksotisme Prau di Malam Hari

Kawasan pegunungan biasanya sangat minim polusi udara dan polusi cahaya, jadi kita bisa melihat rasi bintang milkyway dengan cukup jelas. Bahkan beberapa foto saya menangkap hujan meteor yang terjadi pada bulan Agustus lalu.

DSC_0041_fhdrThe Wonderfull Milky Way

Menjelang pagi inilah yang ditunggu-tunggu oleh semua pendaki. Golden sunrise dimana matahari terbit dengan warna kuning emas, pada saat warna emas itu pecah digaris horizon adalah sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Bahkan menurut beberapa sumber golden sunrise dieng adalah yang terbaik ke -3 di dunia setelah Gunung Fuji di Jepang danBromo. Sungguh bangga saya telah menginjakan kaki di gunung ini.

DSC_0013_fhdr

Ketika Matahari mulai muncul suhu yang sangat dingin pun semakin menghangat. Kabut mulai turun berkumpul dilembah seperti kumpulan awan menutupi kota-kota dan lembah seolah-olah kita sedang berdiri lebih tinggi dari awan. Mungkin ini yang dimaksud Kla Project dalam lagu “negeri di atas awan”. Kini Matahari hampir meninggi. Hari menjelang siang kami bergegas pulang ke semarang dan meninggalkan semua keindahan ini. Hanya semalam kami menikmati indahnya kekayaan alam negeri kami dan sungguh bersyukur telah dilahirkan ditanah indah ini. Selamat Dirgahayu negaraku tercinta semoga kami bisa selalu menjaga tanah air ini.

DSC_0104_fhdrDirgahayu Tanah Air Ku

1 Banner Jan-Feb 2015

See You When I see You

Posted in and I see on October 23, 2014 by Aurora Borealis

Entah,

Sejak kapan aku membiasakan diri mengingatmu dengan air mata.

Air mata kehilangan dan saya sedang mengalami itu. Mungkin, perkataan saya agak berlebihan, akan tetapi perkataan itu masih sangat wajar, bukan? Kehilangan hampir selalu menguasai kita ketimbang kita yang mengusai kehilangan. Kehilangan, hampir selalu membuat diri lumpuh dari harapan. Kehilangan membuat kita seperti seekor burung tanpa sayap, seperti pohon tanpa daun, seperti lautan tanpa angin, seperti sungai tanpa tanah, seperti ucapan tanpa kata, seperti riuh yang disusun dari diam.

Jakarta, 23 Oktober 2014.

Tepat dihari ulang tahunmu aku ingin menuliskan beberapa sisa ingatan dan kelumit pikiran yang tak sempat tersampaikan pada enam puluh malam lalu yang kau telah kau sepakati sebagai perpisahan. Barangkali bisa bermanfaat daripada membangkai lalu busuk dan barang tentu kemudian hilang.

Nyaris empat tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi kita untuk berbagi banyak hal, berkisah sama banyaknya juga. Mengenal kepribadian masing-masing. Menjalin keakraban dengan keluarga. Sampai aku terlalu percaya diri dan amat yakin kalau kau takan pernah meninggalkan aku. Walaupun aku tahu masih ada satu langkah lagi yang manjadi penentu hubungan kita selanjutnya.

Aku amat sangat mengerti, kehidupanmu amat sangat tergantung doa sang Ibu. Maka dimalam itu, kau meyakinkanku bahwa hubungan ini akan baik-baik saja jika Ibu merestui. Namun, hingga detik ini pun aku  belum mendapat restu Ibu. Lalu, aku bisa apa? restu Ibu adalah ridho Tuhan. Maka aku berusaha menerima alasan menahun ini dan ikhlas menerimanya.

Tetapi apa kau tahu, ternyata ihklas buka perkara mudah. Apalagi beberapa kenangan kadang mencuat, menggegam otak ku. Dan ketika keadaan memburuk, ketakutan meruyak kuat. Meruap dari titik-titik pori kulit. Aku hanya bertahan dan melakukan sesuatu: Menangis dan berdoa ( Semoga masih ada kebaikan untukku ).

Seorang sahabat berkata, biar waktu yang menyembuhkan. Apa iya waktu sedemikian hebat? Sejauh pengalamanku, waktu memang menyembuhkan. Walau itu juga tak berarti kita tak berdarah-darah lagi. Sahabatku sepertinya lupa menambahkan: waktu menyembuhkan, namun prosesnya panjang dan berdarah-darah.

Apa kau masih ingat beberapa pertengkaran kita malam itu? Apapun yang aku katakan, tetap saja kau bulatkan hatimu kalau hal ini tidak bisa merubah apa-apa tak terkecuali keputusanmu. Selalu aku harus meraba apa yang terjadi dalam pikiranmu. Kau terlalu diam, walau aku sudah sangat sedu sedan menangis. Kamu memaksa aku untuk menerima kenyataan ini. How could you!

Ah, sudahlah ini sudah berlalu aku tak mau kecewa dengan mengingat-ingat kembali. Kini, aku harus berjalan lagi sendirian walaupun masih terseok. Kini harus aku sembuhkan luka, untuk menyambut hari-hari depanku

Mas Tomo, genap di tiga puluh tiga tahun usia mu. Bagaimana kalau aku menuliskan terima kasih. Terima kasih atas apa yang pernah kau berikan selama empat tahun belakangan ini.

Terima kasih karena sudah membawaku ke tempat-tempat indah yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya.

Terima kasih karena sudah memberi rasa hangat dari keceriaan keluargamu. Tak pernah aku merasa senyaman ini berada ditengah Ibu, Bapak dan saudara-saudaramu.

Terima kasih telah memberi banyak teman dan persahabatan dari hasil perjalanan roda dua kita selama ini.

Terima kasih karena menyediakan pundak, peluk, dan juga hati, untuk aku menaruh dan berbagi semua mimpi, cerita, maupun keluh kesah. Tak ada tempat yang nyaman selain tempat yang kau sediakan untukku.

Terima kasih juga telah menjadi teman bertengkarku. Dari pertengkaran-pertengkaran kita, aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan agar tak silap oleh hal yang sama. Agar aku bisa menyesuaikan langkahku dengan langkahmu.
Terima kasih juga karena kembali menghidupkan perasaan takut dan cemburu yang menggebu-gebu. Dan karena itu pula aku jadi sadar kalau kehilanganmu bisa jadi adalah ketakutan dan nestapaku yang teramat besar. Dan itu benar.

Karena tak bisa mengucapkan ulang tahun secara langsung, dan tak boleh memeluk erat punggung mu lagi. Mohon biarkan aku mengucapkan selamat ulang tahun melalui tulisan. Karena cuma ini yang bisa aku lakukan. Selamat ulang tahun om Bishop. Semoga tak lagi kau menjadi batu karang. Sekali-kali belajarlah jadi bambu yang luwes dan lentur. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk berdiri disampingmu selama empat tahun. Semoga kamu selalu diberkahi kesehatan, kebahagiaan, dan juga kekuatan dalam menempuh jalan yang panjang dan berkabut itu. The long and winding road, seperti kata The Beatles.

See you when i see you. Sampai Tuhan berkehendak lain.

Luwak Coffee: The Original Taste from Malabar

Posted in and I see with tags , , , , , , , on March 28, 2013 by Aurora Borealis

Saya memang bukan penikmat kopi, karena bagi saya semua kopi itu sama, hitam dan pahit. Biasanya saya sesekali meminum kopi, itu pun jika berada dikantor dengan dibebani pekerjaan yang menumpuk. Lumayan sebagai penghilang rasa penat dan  kantuk sementara.

Nah, kali ini saya diajak ngopi tidak di kantor pastinya. Adalah Malabar, Bandung barat tepatnya. Kebetulan pada waktu itu saya dan sang Biker sedang berkunjung ke Bandung. Sebelumnya kami memang akan melakukan rute perjalanan yang sudah direncanakan. Kota Cimahi terlebih dahulu kami singgahi menemui owner produsen Respiro bapak Arif Gampang Utomo. Selanjutnya melakukan perjalanan misteri di Pengalengan dan terakhir mendarat di Malabar.

Malabar sebenarnya adalah nama sebuah gunung di Bandung Barat. Namun kami tidak mungkin naik gunung ini dengan menunggang Bishop. Maka kami hanya akan mengunjungi salah satu desa di kaki gunung malabar yang terkenal dengan sugguhan kopinya. Titik koordinat peta di smartphone diarahkan ke desa Pasirmulya. Konon di desa ini ada salah satu produsen kopi luwak yang menjadi banggaan kota Bandung.

Tak susah sebenarnya menemukan desa ini, di pinggir jalan raya pengalengan pun kami sudah menemukan tulisan besar penunjuk jalan menuju kopi luwak Malabar. Namun yang paling membingungkan adalah jalan berkelok-kelok ketika kami sudah masuk ke pedesaan, karena tidak ada lagi penunjuk. Akhirnya kami bertanya pada penduduk setempat yang sedang sibuk memanggul kaleng susu. Kami diberitahu bahwa pemilik pertenakan luwak di desa tersebut adalah Bapak Nuri.

Touchdown!!

Sebuah Banner hijau bertuliskan kopi luwak Malabar berukuran satu meter menandakan kami telah sampai di pertenakan tersebut. Bishop kami taruh di depan gudang kosong. Tak ada siapapun disini, kami melihat-lihat sejenak dulu barangkali ada yang bertanya pada kami. Benar saja kurang dari 15 menit seorang pemuda dengan mengedarai motor tril datang menyapa kami.

Continue reading

Road Will Find a Way

Posted in and I see with tags , , , , on January 28, 2013 by Aurora Borealis

Ketika kami mengalami rasa berdesir karena “hilang” di dunia yang sama sekali asing bagi kita, itulah yang tak bisa di beli dengan uang.  Saat kita tidak tahu mau kemana, kala itulah kita di tuntut untuk berinteraksi dengan orang lokal. Mengobrol hangat di warung kopi, atau berjalan mengikuti intuisi.

Entah apa yang ada dalam benak sang Biker, hingga Ia memberikan nama blognya dengan sebutan Get Lost. Maka, yang terjadi pada setiap perjalanan kami adalah menyasarkan diri. Toh, sudah beberapa tempat yang kami datangi tak terlepas dari sifat nyasar ini.  Sampai-sampai brand riding ware  mensupport kami dengan jacketnya yng diberi nama Get Lost 2 Explore  (Terima kasih Respiro).

DSC_1206

***

Tepat dua bulan sebelum pergantian tahun 2013,  Nusantaride mengadakan sebuah event bertema National Nusantaride Dieng Rally 2012 (selanjutnya disingkat NNDR). Sebuah acara yang digadang-gadang bakalan ramai dengan pecinta motor turing yang tak pernah bertemu sebelumnya. Event yang memakan waktu 3 hari ini, akan diadakan di Dieng Pletau, Wonosobo. Tentu saja sang Biker tak mau ketinggalan dengan event tersebut. Apalagi akan ada share dengan penggiat motor turing ternama.

Tepatnya di desa Sembungan, desa tertinggi di Jawa. Kami akan bertemu kembali dengan kawan-kawan Nusantaride (selanjutnya ditulis NR) yang sebelumnya pernah bercengkrama di ranau Danau. Terasa menggebu rindu untuk kembali menikmati aspal nusantara kami sudah siap lahir batin (nyengir dulu ah). Seminggu sebelumnya  Sang biker sudah melakukan pembayaran sebesar IDR 150.000 untuk pendaftaran peserta. Lalu kenapa ada biaya segala? sambil mengamati akun NR di akun facebook, uang sebesar itu bukan untuk segelintiran bayaran  panitia, tetapi untuk mendapatkan t-shirt, stiker, dan hal terpenting yaitu membangun dua buah toilet umum di kawasan Telaga Cebong.

Jadi, ada 3 hal tujuan perjalanan kami kali ini, pertama bertemu kawan-kawan NR, kedua menebus rindu melintasi aspal nusantara dan terakhir menikmati kawasan wisata Dieng Pletau sambil beramal tentunya. Walaupun sebenarnya ini adalah kali kedua kami datang ke tanah para leluhur.

Tanggal 15 November 2012, karena persoalan pekerjaan yang tidak bisa ditunda, siang hari kami baru berangkat. Menggunakan jacket riding yang baru saja datang dari bandung, membuat kami ingin segera melintas. Tak sabar orang-orang dijalan akan membaca tulisan yang berkelakar di jacket kami ” Get Lost 2 Explore“.

Pukul 9 pagi kami mulai perjalanan ini dengan start dari Cikarang,  Jawa Barat. Sesekali Sang biker mengungkap kekecewaanya karena perjalanan yang agak telat dari perjalanan yang pernah dilakukan sebelumnya.  ” Duh, mau gak mau kita harus lewat pantura klo jem segini baru jalan” katanya menggurutu. Ya mau gimana lagi, bantah saya membatin. Melintasi jalur Pantura Jawa (pantura) memang sedikit agak membosankan, tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati sama sekali, teman-teman perjalanan kami malah mobil super berat. Untung saja cuaca kala itu mendung bersahaja,jadi perjalanan ini tak begitu panas.

Bishop melaju tenang sampai dengan Karawang, Jawa Barat. Setengah jam perjalanan, kami memasuki Ciasem- Subang, rasa bosan karena jalan yang dilewati terlalu datar, Sang Biker meminta persetujuan untuk berbelok arah menuju jalur tengah. Jadilah alur yang akan kita lalui adalah Ciasem-Rancabango-Pasirmuncang-Haurgeulis.

Kini, kami memasuki jalanan pedesaan dengan kondisi aspal yang tak mulus. Arah kemana kita akan keluar dari jalur ini pun masih meraba-raba, dan get lost-lah  kami. Tujuan kami berbelok arah sebenarnya bukan untuk menyasarkan diri, lebih tepatnya adalah mengusir bosan dalam perjalanan. Sesampainya di Haurgeulis, sang Biker sadar bahwa kesasaran dalam perjalanan ini harus disudahi karena mengingat waktu yang tak akan cukup untuk sampai on time di Wonsobo, Jawa Tengah.  Akhirnya  menemui kembali jalan menuju Pantura melewati Indramayu. Ohh,  Road will find a way..

Kami memasuki  kota Cirebon pukul 4 sore. Kebetulan ada sedikit masalah dengan lampu Bishop yang tak hidup, terpaksa kami mampir sejenak dibengkel pinggir jalan. Setengah jam menunggu Bishop berhasil diperbaiki, kami meneruskan perjalanan hingga pukul 8 malam.  Sampai benar-behar mata kami letih dan mencari tenpat peristirahatan.

***

Pagi masih begitu terlaluuuu muda, ketika kami menyapakati untuk memulai perjalanan kembali pukul 3 dini hari. Tanggal 16 November 2012, Wonosobo sedang bergembira untuk menyambut kedatangan kami (maaf, agak berlebihan, xixiixiiii). Perlahan tapi pasti Bishop melaju membelah pagi yang cerah. Dari Pekalongan menuju Kajen menghabiskan waktu tempuh dalam 2 jam.

lagi-lagi sang Biker meminta persetujuan untuk berbelok arah menuju Karanganyar. Ia tidak mau melintasi dua kali dalam perjalanan yang sama sebelumnya menuju Wonosobo. Lalu, saya bisa apa? Beliau lah yang memegang kendali tuas Bishop, mau tak mau saya hanya mengiyakan saja. Pemandangan di kota Karanganyar biasa saja tidak seberapa spesial. Sawah, rumah penduduk atau pasar. Sesekali berjejer rumah makan, itupun belum buka.

Labak Barang.  Nah memasuki kota ini kami mulai disuguhi  pohon-pohon berukuran super besar di sisi kiri kanan jalan. Jalanan ini berkelok-kelok namun sudah beraspal loh 🙂 jalanan ini juga sangat sepi luar biasa, kira-kira setangah jam kami menempuh tidak seorang pun yang kami temui. Takapalah masih banyak suara-suara monyet bersahutan menyapa kami, xixixiixii.

Ditengah perjalanan, kami sering menemui air terjun berukuran sedang dengan aliran air yang tenang. Kami pikir ini memang bukan jalan biasa. Nah, akhirnya kami menemukan papan nama bertuliskan bahwa ini adalah salah satu hutan lindung bagi habitat kera ekor panjang yang di cap milik Perhutani Pakalongan Timur. Kami semakin terbawa oleh suasana perjalanan ini. Sampai akhirnya tak terasa kami telah tiba di suatu pedesaan.

Menikmati aktifitas pagi di desa adalah hal istimewa. Tuas Bishop ditarik pelan agar sepasang mata kami leluasa melihat kegiatan yang tidak biasa kami lihat di kota besar. Yang tua tergesa-gesa pergi ke kebun dan yang muda begitu bersemangat  menuju  sekolah. Ada yang berjalan bergerombol ada juga yang memakai sepeda motor, sungguh bersahaja sekali. Lama-lama tangan saya gatal ingin memotret mereka.

Continue reading

Its Not The End of The World, So Long 2012 !!

Posted in and I see on January 2, 2013 by Aurora Borealis

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 3,000 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 5 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Re_Making Memories on Tapal Kuda Expeditions part 3

Posted in and I see with tags , on November 8, 2012 by Aurora Borealis

Pernah suatu suatu waktu seorang teman pernah bilang begini :

“Ternyata setelah saya membikin pengamatan ngawur, menulis itu punya metode yang sama dengan merayu wanita”. katanya dengan mata ke atas seolah sedang berfikir keras.

“Ketika kamu semakin sering menulis, maka akan semakin jarang kamu mendapatkan writer’s block . Namun ketika kamu jarang menulis maka akan menjadi sulit untuk memulai sebuah tulisan. Sama saja dengan merayu wanita. Ketika kita semakin sering melatih merayu wanita, maka akan semakin mudah kita melancarkan, atau bahkan menciptakan tulisan baru. Namun kalau mulut sudah jarang mengeluarkan rayuan, maka kamu akan menjadi gagap wanita, alias tuna rayu”. Lanjutnya panjang lebar. Saya hanya menjawab Ya sebanyak dua kali. Ah dasar penggombal kata saya dalam hati.

Ketika saya mencoba menulis bagian akhir dari cerita perjalanan ini, tiba-tiba otak saya tumpul dalam waktu sebulan. Saya bingung harus memulai dari mana, dalam tiga minggu saya hanya menghasilkan satu paragraf. Arggh, kawan ternyata kamu benar dan bukan penggombal semata. Pelan-pelan saya mencoba merangkai bahasa dalam posting tulisan bagian akhir ini. Mencoba mencari inspirasi dari membaca perjalanan blog perjalanan lain, sampai mengingat-ingat sudah kemana sajja dihari terakhir  perjalanan dalam rangka melintasi  kawasan Tapal Kuda ini.

Malam hari masih di 23 Agutus 2012.

“Neni, Kira-kira jam berapa kamu sampai Jember?” sebuah pesan datang pada sebuah telepon.

Itu Bude Herlin, Bude yang sudah saya anggap sebagai Ibu kandung  sewaktu saya masih bersekolah di Jember. Saya Bilang mungkin 20 menit lagi. Kami baru saja sampai pintu masuk kota Jember beberapa menit lalu dan akan segera menuju Kecamatan Patrang. Sang Biker begitu terlihat kelelahan sehabis menikmati aspal Probolinggo-Lumbang-Leces-Lumajang-Jember. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Tapi langit musim panas  Jember masih benderang.  Pukul 9.30 malam Kami akhirnya sampai di depan gang rumah Pakde dan Bude,  tempat kami akan beristirahat semalam sekaligus melepas kangen.

Sebelumnya kami memang berniat untuk mampir ke beberapa kerabat saya di Tapal Kuda ini, karena masih dengan suasana lebaran dan amanat bapak. Malam Hari kami menginap di Jember dan esok pagi kami sudah harus menemui Mbah uti di Bondowoso. Jember-Bondowoso tak jauh hanya memakan waktu setengah jam saja. Kami tak mau lama-lama ber-homesick ria di sini. Melihat mbah yang masih bisa tertawa lepas dan sehat saya sudah senang. Selepas sholat jumat kami sudah pamit menuju Baluran di  situbondo.

Continue reading